Kementan Ingatkan Petani di Berau Lindungi Diri dengan AUTP karena Intensitas Hujan Meningkat

Beberapa areal pertanian di Kecamatan Sambaliung dan Teluk Bayur Kabupaten Berau terendam banjir akibat tingginya intensitas curah hujan di hulu Sungai Kelay.

Bahkan desa Tumbit Melayu dan Tumbit Dayak saat ini dalam keadaan siaga. Pasalnya, air mulai merendam sawah petani. Akibatnya, petani terancam gagal panen.

Untuk mengantisipasi kerugian, Kementerian Pertanian (Kementan) mengimbau petani di Kabupaten Berau untuk mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) atau asuransi pertanian.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengingatkan bahwa AUTP merupakan program perlindungan petani yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP). Tujuannya adalah untuk melindungi petani dari kerugian jika terjadi gagal panen.

AUTP merupakan program perlindungan bagi petani. Tujuannya agar mereka tetap bisa bercocok tanam meski mengalami gagal panen,” kata Menteri Pertanian SYL, Minggu (15 Mei).

Dirjen PSP Kementerian Pertanian Ali Jamil menambahkan, AUTP merupakan program perlindungan untuk memberi kekuatan kepada petani untuk terus tumbuh meskipun gagal panen.

Karena AUTP akan memberikan jaminan gagal panen kepada petani sebesar Rp 6 juta per hektar per musim,” kata Ali.

Ia mengatakan, program AUTP dimulai sebagai bentuk kepedulian petani untuk tetap berproduksi dalam segala kondisi dan situasi. ”

Pertanian merupakan sektor yang rentan terhadap perubahan iklim dan serangan hama tanaman (OPT). Oleh karena itu, program ini diluncurkan untuk menjaga ketahanan petani agar tetap kuat dalam hal permodalan untuk memulai kembali budidaya pertaniannya,” kata Ali.

Direktur Keuangan Ditjen PSP Deptan Indah Mengahwati mengatakan, program AUTP juga bertujuan untuk menjaga tingkat produktivitas petani agar tetap terjaga.

Dengan AUTP, petani masih bisa menanam lagi. Jadi produktivitas pertanian mereka juga tidak terganggu, artinya tingkat kesejahteraan mereka juga akan terjaga,” kata Indah.

Indah mengatakan petani secara teknis harus memenuhi beberapa persyaratan untuk mengikuti program AUTP.

Pertama, pion harus bergabung dengan kelompok pion. Mereka kemudian mendaftarkan negara yang akan mereka asuransikan. Dari sisi pendanaan, Indah mengatakan petani hanya membayar iuran Rp 36.000 per hektar per musim tanam dari premi AUTP Rp 180.000 per hektar per musim tanam.

Pengumpulan Rp 144.000 per hektar per musim tanam disubsidi oleh pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Tentu saja, program AUTP ini menawarkan banyak manfaat dengan biaya yang sederhana,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.